Relief Kayu Jati Purbaya: Ekonomi Kuat, Rakyat Sejahtera
ORBITINDONESIA.COM – Relief kayu jati Purbaya Yudhi Sadewa buatan guru Pacitan mendadak menjadi cara lain membaca ekonomi Indonesia. Lewat tema “Ekonomi Kuat, Rakyat Sejahtera”, Aryoko, S.Pd., menaruh harapan publik pada sebidang jati berukuran 70 x 70 sentimeter.
Di Indonesia, ekonomi sering hadir sebagai angka dan pidato, tetapi terasa jauh dari dapur rumah tangga. Di titik itu, karya Aryoko seperti memaksa publik menatap ulang: siapa yang benar-benar menikmati pertumbuhan.
Aryoko mengukir wajah Purbaya sebagai figur utama, lalu mengelilinginya dengan peta Indonesia, grafik, petani, pedagang pasar, pekerja, UMKM, generasi digital, dan MRT. Ia menegaskan pesan lewat tulisan “Pertumbuhan Ekonomi Indonesia” dan “Produk Lokal Daya Saing Global”.
Karya ini bukan pesanan kementerian, bukan proyek pencitraan resmi, dan belum diserahkan kepada tokoh yang diukir. Justru karena lahir dari inisiatif pribadi, relief itu menjadi dokumen sosial tentang harapan warga pada kebijakan ekonomi.
Relief kayu jati Purbaya bekerja sebagai “infografik” yang emosional, bukan tabel statistik. Petani dan pedagang ditempatkan bukan sebagai ornamen, melainkan sebagai pengingat bahwa ekonomi dimulai dari kerja harian.
Di dunia nyata, pertumbuhan ekonomi Indonesia beberapa tahun terakhir kerap dipuji stabil di kisaran 5 persen, namun isu pemerataan tetap membayangi. Data BPS menunjukkan ketimpangan masih menjadi pekerjaan rumah, terlihat dari rasio gini yang bergerak di sekitar 0,38 pada 2023–2024.
Simbol MRT dan generasi digital di relief itu menandai dua wajah pembangunan: modernisasi dan ekonomi baru. Namun modernisasi hanya jadi kabar baik bila produktivitas dan upah pekerja ikut naik, bukan sekadar menambah etalase kota.
Proses pembuatannya juga menyimpan pesan tentang ketekunan kebijakan. Aryoko memakai CNC router untuk dasar, lalu menghabiskan sekitar 55 persen waktu pada detail wajah, karena sedikit meleset mengubah karakter.
Di sini ada paralel yang tajam dengan ekonomi: angka makro bisa rapi, tetapi detail lapangan menentukan arti. Kebijakan yang tampak “mirip” pro-rakyat di atas kertas bisa berubah wataknya ketika menyentuh harga pangan, biaya sekolah, dan ongkos kesehatan.
Gestur jempol pada figur Purbaya adalah simbol optimisme, tetapi optimisme selalu menuntut bukti. “Pose jempol ke atas adalah ekspresi optimisme dan kepercayaan diri Indonesia,” kata Aryoko.
Masalahnya, optimisme pejabat dan optimisme rakyat tidak otomatis sejalan. Rakyat menilai dari hal sederhana: apakah kerja lebih mudah, dagangan lebih laku, dan penghasilan cukup menghadapi inflasi.
Relief ini juga menguji batas antara apresiasi dan kultus figur. Ketika wajah pejabat menjadi pusat komposisi, publik bisa bertanya: apakah ekonomi sedang dipersonalisasi, seolah bergantung pada satu tokoh.
Namun Aryoko memberi konteks lewat figur petani, pedagang, dan pekerja yang mengitari pusat. Ia seperti berkata bahwa pejabat hanya bermakna bila berdiri di tengah ekosistem, bukan di atasnya.
Metafora jati yang “kuat, tahan lama, dan tumbuh dari bumi Indonesia” terasa tepat, sekaligus menuntut konsistensi. Ekonomi kuat bukan sekadar proyek cepat, melainkan keberanian merawat akar: produksi lokal, pendidikan vokasi, dan perlindungan kerja.
Relief kayu jati Purbaya yang belum diserahkan itu akhirnya menjadi cermin, bukan hadiah. Ia mengabadikan satu keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya berarti ketika sampai ke pasar, sawah, dan bengkel kerja.
Jika seorang guru kriya kayu bisa merumuskan ekonomi dalam bahasa yang mudah dipahami, mengapa kebijakan sering terasa rumit dan jauh. Barangkali pertanyaan terpentingnya sederhana: ketika grafik naik, siapa yang benar-benar ikut terangkat.
(Orbit dari berbagai sumber, 19 September 2026)