Oedipus dan Sangkuriang: Mitos, Asal-Usul, dan Batas yang Tidak Boleh Dilampaui
Oleh Heri Isnaini
ORBITINDONESIA.COM - Oedipus dan Sangkuriang berasal dari dua bentang kebudayaan yang berjauhan. Oedipus tumbuh dalam khazanah mitologi Yunani, sementara Sangkuriang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Sunda melalui tradisi lisan yang menghubungkan kisahnya dengan Dayang Sumbi, Tumang, dan terbentuknya Gunung Tangkuban Parahu. Jarak geografis, sejarah, bahasa, serta lingkungan kebudayaan yang melingkupi keduanya membuat kedua tokoh tersebut tampak tidak memiliki hubungan apa pun.
Namun, ketika kisah mereka ditempatkan dalam satu ruang pembacaan, muncul kelindan persoalan yang menarik: keduanya merupakan tokoh yang mengalami keterputusan dari asal-usul, tumbuh tanpa pengetahuan yang utuh tentang identitas dirinya, lalu bergerak menuju masa lalu yang ternyata menyimpan hubungan sangat dekat dengan keberadaan mereka.
Persamaan tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya hubungan genealogis antara mitologi Yunani dan legenda Sunda. Membandingkan Oedipus dengan Sangkuriang tidak harus dilakukan dengan mencari siapa yang memengaruhi siapa, sebab kemiripan sebuah mitos dapat muncul dari persoalan manusia yang memang bersifat lintas kebudayaan.
Manusia mengenal kelahiran, kematian, keluarga, kehilangan, hasrat, larangan, dan pencarian identitas dalam hampir seluruh ruang kebudayaan. Pengalaman tersebut kemudian memperoleh bentuk yang berbeda sesuai dengan bahasa simbolik masyarakat yang mewariskannya. Oedipus dan Sangkuriang dapat ditempatkan dalam kerangka semacam itu: dua tokoh yang berbeda, dua lingkungan budaya yang berbeda, tetapi bergerak dalam persoalan tentang asal-usul dan batas yang tidak boleh dilampaui.
Persoalan asal-usul menempati posisi penting dalam kedua kisah tersebut. Oedipus tidak mengetahui bahwa dirinya merupakan anak Laius dan Jocasta. Sejak bayi ia dipisahkan dari lingkungan asalnya sebab ramalan yang menyatakan bahwa dirinya kelak akan membunuh ayahnya dan menikahi ibunya. Ia tumbuh dalam keluarga lain dengan identitas yang berbeda dari asal-usul biologisnya.
Ketika dewasa, keinginannya untuk mengetahui kebenaran tentang dirinya justru mengantarkannya menuju kenyataan yang selama ini tersembunyi. Sangkuriang mengalami keterputusan dengan cara yang berbeda. Ia meninggalkan Dayang Sumbi setelah peristiwa yang berkaitan dengan kematian Tumang, kemudian kembali sebagai seorang dewasa tanpa mengenali perempuan yang kelak hendak dipersuntingnya sebagai ibunya sendiri.
Keterputusan tersebut menjadikan identitas sebagai sesuatu yang harus dicari, bukan sesuatu yang sejak awal tersedia secara utuh. Dalam kehidupan manusia, pertanyaan tentang identitas hampir selalu bersentuhan dengan pertanyaan tentang asal-usul. Seseorang ingin mengetahui keluarganya bukan sekadar untuk memperoleh informasi genealogis, melainkan untuk memahami jejak yang membentuk dirinya.
Nama keluarga, bahasa, tempat kelahiran, tradisi, cerita leluhur, bahkan pengalaman yang diwariskan secara diam-diam dapat menjadi bagian dari konstruksi identitas. Sebab itu, pencarian asal-usul dalam mitos dapat dibaca sebagai bentuk simbolik dari kebutuhan manusia untuk memahami posisi dirinya di tengah dunia.
Carl Gustav Jung memberikan jalan pembacaan yang menarik melalui konsep arketipe dan alam bawah sadar kolektif. Dalam kerangka psikologi analitis Jung, pengalaman manusia tidak seluruhnya bekerja dalam wilayah kesadaran individual. Terdapat pola-pola dasar yang dapat muncul dalam berbagai kebudayaan melalui simbol, tokoh, mimpi, dan narasi.
Arketipe tersebut tidak hadir dalam bentuk yang selalu identik sebab setiap kebudayaan memberikan tubuh dan bahasa sendiri terhadapnya. Pola yang sama dapat menjelma menjadi cerita yang berbeda ketika memasuki ruang kebudayaan yang berbeda.
Pencarian asal-usul merupakan salah satu pola tersebut. Oedipus dan Sangkuriang sama-sama bergerak dari ketidaktahuan menuju penyingkapan identitas, tetapi penyingkapan itu tidak memberikan ketenteraman. Pengetahuan yang mereka peroleh justru memperlihatkan hubungan dengan asal-usul yang tidak dapat diterima dalam tatanan sosial. Di sinilah kedua kisah tersebut mulai bergerak dari persoalan identitas menuju persoalan batas.
Figur ibu menjadi bagian penting dalam pergerakan tersebut. Jocasta dalam kisah Oedipus dan Dayang Sumbi dalam kisah Sangkuriang bukan hanya tokoh perempuan yang mempunyai hubungan biologis dengan tokoh utama.
Dalam perspektif Jung, figur ibu dapat dibaca melalui arketipe Great Mother, yakni gambaran tentang ibu sebagai sumber kehidupan, perlindungan, kesuburan, dan ruang pertama tempat manusia memperoleh pengalaman tentang keberadaan. Ibu menjadi semacam titik asal yang secara simbolik menyimpan kerinduan manusia untuk kembali kepada sumber kehidupannya.
Persoalan muncul ketika keinginan untuk kembali kepada sumber tersebut bertabrakan dengan struktur kehidupan sosial. Oedipus menikahi Jocasta tanpa mengetahui bahwa perempuan itu adalah ibunya. Sangkuriang hendak menikahi Dayang Sumbi dalam keadaan yang sama-sama dibangun oleh ketidaktahuan.
Hubungan tersebut bukan sekadar persoalan personal, sebab di dalamnya terdapat batas yang telah ditetapkan oleh masyarakat. Larangan terhadap hubungan sedarah merupakan salah satu bentuk tabu yang dikenal luas dalam kebudayaan manusia.
Sebab itu, tragedi dalam kedua kisah tersebut tidak hanya berhubungan dengan nasib individual tokoh, tetapi juga dengan mekanisme kebudayaan dalam menjaga batas antara hubungan yang diperbolehkan dan hubungan yang dilarang.
Claude Lévi-Strauss menempatkan larangan inses sebagai persoalan penting dalam pembentukan kehidupan sosial manusia. Keluarga tidak dapat menjadi satu-satunya ruang hubungan manusia sebab kehidupan sosial membutuhkan relasi yang bergerak melampaui lingkaran genealogis.
Larangan terhadap hubungan tertentu sekaligus membuka kemungkinan bagi terbentuknya hubungan sosial yang lebih luas. Dalam kerangka tersebut, tabu bukan sekadar larangan moral, melainkan bagian dari struktur yang memungkinkan masyarakat mempertahankan keteraturan relasinya.
Oedipus dan Sangkuriang memperlihatkan persoalan tersebut melalui bentuk naratif yang sangat kuat. Kedua tokoh bergerak tanpa mengetahui batas yang sedang mereka dekati. Ketidaktahuan membuat tindakan mereka memperoleh makna tragis, sebab mereka tidak sepenuhnya memahami situasi yang sedang mereka masuki. Ketika kebenaran terungkap, batas tersebut menjadi jelas, tetapi keterlambatan pengetahuan membuat kehidupan tidak lagi dapat dikembalikan ke keadaan semula.
Di sinilah tragedi kedua kisah tersebut memperoleh kedalamannya. Masalahnya bukan semata-mata bahwa tokoh melakukan sesuatu yang dilarang, melainkan bahwa manusia sering menjalani hidup dalam pengetahuan yang terbatas. Kita mengambil keputusan berdasarkan apa yang kita ketahui pada suatu waktu, sementara keseluruhan akibat dari keputusan tersebut belum tentu dapat kita lihat.
Oedipus berusaha menghindari ramalan yang mengerikan justru dengan meninggalkan orang-orang yang dianggap sebagai orang tuanya. Sangkuriang menjalani perjalanan hidupnya tanpa mengetahui hubungan genealogisnya dengan Dayang Sumbi. Ketidaktahuan bukan sekadar latar cerita, tetapi menjadi salah satu tenaga yang menggerakkan tragedi.
Ramalan dalam kisah Oedipus juga memperlihatkan persoalan lain, yaitu hubungan antara kehendak manusia dan sesuatu yang berada di luar kendalinya. Oedipus mengetahui ramalan tentang dirinya dan berusaha menghindarinya, tetapi setiap langkah yang diambil untuk menjauh justru mengarah kepada pemenuhannya. Struktur seperti ini membuat kisah Oedipus sering dibaca sebagai tragedi tentang takdir.
Dalam pembacaan psikologis, keadaan tersebut dapat didekatkan dengan gagasan mengenai kekuatan-kekuatan batin yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali kesadaran. Mitos menyebutnya takdir, ramalan, atau nasib; psikologi menggunakan bahasa yang berbeda untuk membicarakan wilayah batin yang bekerja di luar kesadaran langsung.
Sangkuriang tidak memiliki struktur ramalan yang sepenuhnya sama dengan Oedipus, sehingga kedua cerita tidak perlu dipaksakan menjadi identik. Justru perbedaan itu memperlihatkan bagaimana kebudayaan memberikan bentuk yang berlainan terhadap persoalan manusia.
Dalam Oedipus, persoalan asal-usul bertaut erat dengan ramalan dan takdir. Dalam Sangkuriang, persoalan tersebut berkelindan dengan hubungan keluarga, perjalanan, hasrat, alam, dan pembentukan lanskap. Kesamaannya terletak pada struktur kegelisahan, sementara bentuk naratif yang digunakan oleh masing-masing kebudayaan tetap mempunyai kekhasannya sendiri.
Pembacaan semacam itu membuat mitos tidak berhenti sebagai cerita tentang masa lalu. Mitos menyimpan cara masyarakat memahami pengalaman yang sulit diterangkan melalui penjelasan langsung. Ia memberikan bentuk kepada ketakutan, hasrat, larangan, dan persoalan asal-usul melalui tokoh dan peristiwa yang dapat diwariskan.
Ketika cerita tersebut terus diceritakan, yang diwariskan bukan hanya rangkaian peristiwa, tetapi juga cara sebuah masyarakat memandang hubungan antara manusia, keluarga, kehidupan sosial, dan dunia di sekitarnya.
Sangkuriang, misalnya, tidak dapat dilepaskan dari lanskap budaya Sunda yang kemudian menghubungkan kisahnya dengan Tangkuban Parahu. Hubungan antara manusia dan alam menjadi bagian dari daya hidup legenda tersebut.
Oedipus pun tidak dapat dipisahkan dari tradisi tragedi Yunani yang menempatkan hubungan antara manusia, pengetahuan, para dewa, dan takdir dalam struktur cerita. Membaca keduanya secara komparatif berarti menjaga perbedaan tersebut sekaligus melihat kemungkinan adanya persoalan yang mempertemukan keduanya.
Persoalan tersebut adalah asal-usul dan batas. Manusia ingin mengetahui dari mana dirinya berasal, tetapi pengetahuan tentang asal-usul tidak selalu membawa manusia kepada tempat yang nyaman. Manusia ingin kembali kepada sumber kehidupan, tetapi tidak setiap bentuk kepulangan dapat dilakukan.
Manusia memiliki kehendak, tetapi kehidupan sosial memberikan batas terhadap kehendak tersebut. Manusia mengejar kebenaran, tetapi kebenaran tertentu dapat mengubah seluruh cara seseorang memahami dirinya.
Mitos Oedipus dan Sangkuriang menjadi kuat justru sebab keduanya tidak memberikan penyelesaian yang sederhana terhadap persoalan tersebut. Keduanya memperlihatkan bahwa identitas manusia terbentuk dari hubungan yang rumit antara pengetahuan dan ketidaktahuan, antara keinginan dan larangan, antara masa lalu dan kehidupan yang sedang dijalani.
Tokoh-tokohnya bergerak mencari sesuatu yang hilang, tetapi pencarian tersebut mempertemukan mereka dengan kenyataan bahwa masa lalu tidak selalu dapat dipulihkan dalam bentuk semula.
Pada titik ini, asal-usul bukan lagi sekadar persoalan genealogis. Ia menjadi persoalan eksistensial. Pertanyaan tentang siapa orang tua kita dapat berkembang menjadi pertanyaan tentang siapa diri kita. Pertanyaan tentang dari mana kita berasal dapat berubah menjadi pertanyaan tentang ke mana kehidupan sedang diarahkan.
Hubungan dengan masa lalu kemudian tidak hanya berkaitan dengan apa yang pernah terjadi, tetapi juga dengan bagaimana masa lalu tersebut membentuk cara manusia memahami keberadaannya sekarang.
Sebab itu, Oedipus dan Sangkuriang masih menarik dibaca bukan sebab keduanya memiliki cerita yang persis sama, melainkan sebab keduanya memperlihatkan bagaimana manusia berhadapan dengan sesuatu yang lebih tua daripada dirinya sendiri: asal-usul, keluarga, ingatan, hasrat, dan aturan yang membentuk kehidupan bersama.
Masing-masing kebudayaan memberikan bahasa dan simbol yang berbeda, tetapi persoalan yang mereka bicarakan tetap dapat beresonansi dalam pembacaan masa kini.
Kita pun hidup dengan persoalan asal-usul. Identitas seseorang tidak pernah sepenuhnya terlepas dari tempat ia lahir, bahasa yang pertama kali didengarnya, keluarga yang membesarkannya, tradisi yang diwariskan kepadanya, dan berbagai pengalaman yang membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan.
Pengetahuan tentang asal-usul dapat menjadi jalan untuk memahami diri, tetapi pengetahuan itu juga menuntut kemampuan untuk menerima bahwa tidak semua bagian masa lalu dapat diubah. Manusia hanya dapat menafsirkan kembali jejak yang telah terbentuk dan menentukan bagaimana jejak tersebut ditempatkan dalam perjalanan hidupnya.
Oedipus dan Sangkuriang memperlihatkan bahwa pencarian asal-usul memiliki dua sisi. Di satu sisi, pencarian tersebut merupakan kebutuhan untuk memahami identitas. Di sisi lain, pencarian itu membawa manusia kepada batas yang dibangun oleh kebudayaan.
Kedua sisi tersebut tidak dapat dipisahkan sebab identitas manusia selalu terbentuk dalam jaringan hubungan sosial yang memiliki aturan. Manusia bukan hanya makhluk yang ingin mengetahui, tetapi juga makhluk yang hidup di dalam batas-batas tertentu.
Mitos kemudian menjadi ruang tempat persoalan tersebut disimpan dan ditafsirkan kembali. Ia tidak memberikan jawaban tunggal mengenai kehidupan, tetapi menyediakan kemungkinan untuk melihat manusia dari berbagai sudut. Oedipus mengajarkan bagaimana pencarian kebenaran dapat berkelindan dengan takdir dan tragedi, sementara Sangkuriang memperlihatkan bagaimana pencarian, ketidaktahuan, hubungan keluarga, dan lanskap budaya dapat bertemu dalam sebuah legenda. Membaca keduanya secara bersamaan membuat kita melihat bahwa mitos memiliki daya hidup sebab ia terus menyediakan ruang bagi penafsiran baru.
Oedipus dan Sangkuriang bukan cerita yang sama, dan tidak perlu disamakan untuk menemukan hubungan tematik di antara keduanya. Keduanya merupakan produk kebudayaan yang memiliki sejarah dan sistem simbol masing-masing.
Kesamaan yang tampak justru menjadi pintu untuk memahami bagaimana pengalaman manusia dapat memperoleh bentuk yang berbeda dalam kebudayaan yang berbeda. Di satu tempat, persoalan tersebut hadir sebagai tragedi tentang ramalan dan takdir; di tempat lain, ia hadir sebagai legenda tentang keluarga, hasrat, alam, dan asal-usul sebuah tempat.
Dari sana, mitos memperlihatkan sesuatu yang penting tentang manusia: pencarian terhadap diri selalu membawa manusia kembali kepada persoalan asal-usul, tetapi perjalanan menuju asal-usul tidak berarti seseorang dapat kembali begitu saja kepada keadaan semula.
Masa lalu memiliki jejak yang dapat dibaca, tetapi tidak dapat diulang sepenuhnya. Batas sosial dapat dipahami, tetapi tidak selalu dapat dinegosiasikan. Keinginan dapat menjadi tenaga kehidupan, tetapi ia juga membutuhkan kesadaran terhadap ruang yang tidak semestinya dilampaui.
Oedipus dan Sangkuriang akhirnya dapat dibaca sebagai dua narasi tentang manusia yang berusaha mengenali dirinya melalui masa lalu, kemudian berhadapan dengan kenyataan bahwa asal-usul bukan sekadar tempat untuk kembali, melainkan sesuatu yang harus dipahami dalam kaitannya dengan identitas, ingatan, hasrat, dan batas kehidupan sosial.
Di situlah mitos memperoleh kedalamannya: bukan sebab ia menawarkan jawaban yang selesai, melainkan sebab ia terus membuat manusia bertanya tentang dirinya sendiri melalui cerita yang diwariskan dari masa ke masa.
Bandung, 2 Oktober 2026
Heri Isnaini, dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Email: heriisnaini.heriisnaini@gmail.com ***