Parasocial Relationship di Media Sosial: Mengapa Fans Terlalu Terikat

Kumparan.com

Kumparan.com

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Parasocial relationship di media sosial membuat banyak orang merasa “kehilangan” saat artis menikah atau idol hiatus. Kata kuncinya sederhana: kita merasa dekat, padahal tak pernah benar-benar dikenal.

Setiap kali figur publik mengumumkan pernikahan, komentar “patah hati” membanjiri linimasa. Reaksi itu sering terdengar seperti duka personal, meski hubungan tersebut tidak pernah terjadi dua arah.

Di era TikTok, Instagram, dan live streaming, kedekatan terasa makin nyata. Paparan harian membuat publik seperti mengikuti “serial kehidupan” yang berjalan tanpa jeda.

Istilah parasocial relationship diperkenalkan Donald Horton dan Richard Wohl pada 1956. Mereka menjelaskan ilusi kedekatan penonton dengan tokoh media yang sebenarnya tidak timbal balik.

Media sosial memperkuat parasocial relationship karena komunikasi terlihat personal, meski tetap massal. Story, vlog, dan siaran langsung memberi sensasi “akses belakang panggung” yang dulu mustahil.

Psikologi mengenal mere exposure effect, yakni kecenderungan menyukai sesuatu karena sering terpapar. Ketika wajah dan suara yang sama muncul setiap hari, otak membangun rasa familiar yang mudah disalahartikan sebagai kedekatan.

Riset juga menunjukkan hubungan parasosial bukan selalu buruk. Studi dalam Journal of Social and Personal Relationships (misalnya karya-karya Gayle Stever tentang keterikatan penggemar) menyoroti bahwa figur publik bisa memberi rasa ditemani dan menjadi sumber motivasi.

Masalahnya muncul saat keterikatan berubah menjadi rasa memiliki. Penggemar mulai menuntut “hak” atas pilihan hidup figur publik, dari pacaran hingga pernikahan, seakan-akan ada kontrak emosional yang dilanggar.

Algoritma ikut memperuncing situasi karena mendorong konten yang memicu emosi kuat. Semakin kita menonton, semakin platform menyodorkan potongan hidup yang lebih intim, sehingga lingkaran keterikatan makin rapat.

Batas publik dan privat juga menipis karena banyak kreator menjual “keaslian” sebagai merek. Keterbukaan tentang keluarga, rutinitas, bahkan tangisan di kamera, sering menjadi komoditas yang menaikkan engagement.

Di titik tertentu, publik lupa bahwa yang terlihat hanyalah kurasi. Yang disebut “autentik” sering tetap merupakan narasi terpilih, disunting, dan diarahkan untuk membangun kedekatan yang menguntungkan.

Parasocial relationship bukan sekadar “fans lebay”, melainkan gejala sosial yang diproduksi oleh ekosistem digital. Ketika perhatian adalah mata uang, kedekatan semu menjadi strategi, bukan kebetulan.

Namun, menyalahkan figur publik saja tidak cukup adil. Penonton juga perlu literasi emosi, karena rasa akrab yang terus dipupuk bisa menutupi kebutuhan relasi nyata yang belum terpenuhi.

Kita perlu membedakan inspirasi dari ketergantungan. Mengikuti atlet untuk disiplin berlatih sehat berbeda dengan memantau setiap detail hidupnya sampai menguras waktu dan harga diri.

Ukuran paling sederhana adalah dampaknya pada kehidupan sehari-hari. Jika kabar figur publik mengganggu tidur, pekerjaan, atau hubungan dekat, maka relasi parasosial sudah melewati batas sehat.

Di sini, kritik terbesar bukan pada rasa kagum, melainkan pada ilusi kepemilikan. Tidak ada penggemar yang berhak mengatur tubuh, pasangan, atau keputusan hidup orang yang bahkan tidak mengenal namanya.

Media sosial membuat parasocial relationship terasa wajar karena kita “bertemu” figur publik setiap hari di layar. Padahal, kedekatan yang paling kokoh tetap lahir dari relasi timbal balik, bukan dari notifikasi.

Mengagumi boleh, terinspirasi perlu, tetapi menjaga batas adalah bentuk kedewasaan digital. Pertanyaannya: apakah kita mengikuti mereka untuk bertumbuh, atau untuk menambal sepi yang seharusnya disembuhkan lewat hubungan nyata?

(Orbit dari berbagai sumber, 4 September 2026)