Self-Care Nigeria: Cegah Penyakit Kronis, Kurangi Beban Rumah Sakit
ORBITINDONESIA.COM – Self-care Nigeria kini didorong sebagai jawaban atas lonjakan penyakit kronis dan non-communicable diseases (NCD) yang menggerus daya tahan rumah sakit dan dompet keluarga. Dari panggung D’Bio Wellness and Self-Care Summit di Lagos, para ahli menegaskan: pencegahan harus mengalahkan budaya “berobat saat sudah sakit”.
Nigeria sedang menghadapi beban ganda: layanan kesehatan primer yang tertekan dan gelombang NCD seperti hipertensi, diabetes, serta kolesterol tinggi yang makin lazim. Ketika biaya pengobatan meningkat, keluarga terdorong memilih jalan pintas—menunda periksa, membeli obat sembarang, atau percaya klaim ajaib di media sosial.
Di forum tersebut, Pharm. Olayinka Subair menyebut banyak hasil kesehatan ditentukan jauh sebelum pasien tiba di ruang konsultasi. Artinya, pusat gravitasi kesehatan publik perlu dipindahkan dari bangsal rumah sakit ke kebiasaan harian di rumah dan komunitas.
Subair merumuskan lima fondasi self-care: nutrisi, aktivitas fisik, kesehatan mental, penggunaan obat rasional, dan penghindaran risiko. Lima hal itu terdengar sederhana, tetapi justru di situlah letak pertarungan sebenarnya—melawan pola makan tinggi gula, gaya hidup sedentari, stres kronis, serta konsumsi obat yang serampangan.
Seruan “beralih dari sickness care ke self-care” bukan slogan motivasi, melainkan perhitungan ekonomi kesehatan yang keras. Jika penyakit yang bisa dicegah terus dibiarkan, biaya perawatan akan menumpuk pada fasilitas yang sudah kewalahan dan pada rumah tangga yang rentan jatuh miskin karena biaya medis.
Subair bahkan mendorong kebijakan fiskal: pajak gula dan subsidi buah serta sayur agar hidup sehat lebih terjangkau. Ini menempatkan pencegahan sebagai urusan struktur, bukan sekadar moral individu, karena pilihan “sehat” sering kalah oleh harga dan akses.
Ia juga menekankan target yang realistis: setidaknya 30 menit bergerak, lima hari seminggu. Ketika aktivitas fisik diposisikan sebagai rutinitas, bukan proyek musiman, maka pencegahan berubah dari wacana menjadi kebiasaan.
Namun, pencegahan tidak akan lengkap tanpa kesehatan mental, yang disebut Subair sebagai “mesin” self-care lainnya. Ia meminta sekolah dan tempat kerja memasukkan program kesehatan mental, sekaligus menegur komunitas dan pemuka agama agar tidak mengurung gangguan mental semata sebagai isu spiritual.
Di titik ini, self-care bukan berarti “sendiri”, melainkan “sadar” dan “terhubung” dengan layanan yang tepat. Stres yang dibiarkan bisa menjadi pemantik hipertensi, gangguan tidur, hingga perilaku konsumsi berisiko, sehingga intervensi mental health adalah investasi klinis sekaligus sosial.
Peran apoteker muncul sebagai simpul penting yang sering diabaikan dalam sistem kesehatan. Subair meminta apoteker memperkuat konseling, mencegah penyalahgunaan antibiotik, dan membantu pemantauan indikator dasar seperti tekanan darah serta gula darah.
Jika apoteker menjadi titik kontak pertama yang mudah dijangkau, beban rumah sakit dapat dipangkas sebelum komplikasi terjadi. Community health workers kemudian menjadi perpanjangan tangan untuk edukasi, tindak lanjut, dan rujukan, sehingga pencegahan benar-benar hidup di level komunitas.
Di sisi lain, Pharm. Tanko Ayuba dari Pharmaceutical Society of Nigeria mengingatkan ancaman yang tumbuh paralel: obat palsu dan klaim kesehatan menyesatkan di media sosial. Ia menyebut produk tiruan makin sulit dikenali, dan testimoni daring sering dipoles, bahkan dengan dukungan kecerdasan buatan untuk memalsukan endorsement tokoh terkenal.
Peringatan ini penting karena self-care tanpa literasi kesehatan bisa berubah menjadi self-harm. Ketika orang “merawat diri” dengan produk yang tidak jelas, yang terjadi bukan pencegahan, melainkan risiko baru yang mempercepat pasien masuk rumah sakit.
Gagasan “rumah sakit untuk darurat, komunitas untuk pencegahan” terdengar ideal, tetapi juga menantang hierarki lama layanan kesehatan. Nigeria, seperti banyak negara lain, cenderung memberi legitimasi pada tindakan kuratif yang terlihat, sementara kerja pencegahan yang sunyi sering kalah prioritas.
Di sinilah self-care harus dibaca sebagai proyek politik kebijakan, bukan sekadar ajakan gaya hidup. Pajak gula dan subsidi pangan sehat, misalnya, akan berhadapan dengan kepentingan industri, kebiasaan konsumsi, dan resistensi publik terhadap kenaikan harga.
Selain itu, ada risiko narasi self-care dipakai untuk menyalahkan individu yang sakit. Padahal, banyak orang hidup dalam lingkungan yang tidak mendukung: makanan sehat mahal, ruang aman untuk berolahraga minim, jam kerja panjang, dan akses layanan mental health terbatas.
Karena itu, pesan paling tajam dari summit ini justru soal kolaborasi lintas peran: keluarga, tenaga kesehatan, komunitas, dan pembuat kebijakan. Self-care yang cerdas membutuhkan ekosistem yang melindungi warga dari informasi palsu, obat palsu, dan godaan “solusi instan” yang terlalu bagus untuk nyata.
Pada akhirnya, self-care Nigeria adalah pertaruhan tentang masa depan: apakah negara ingin terus membayar mahal untuk penyakit yang bisa dicegah, atau membangun budaya sehat yang dimulai dari rumah. Ketika nutrisi, gerak, kesehatan mental, dan penggunaan obat rasional menjadi norma, rumah sakit tidak lagi menjadi pintu pertama, melainkan pintu terakhir.
Namun pertanyaan yang tersisa lebih sulit: seberapa serius negara dan masyarakat menata lingkungan agar pilihan sehat menjadi pilihan termudah. Jika pencegahan adalah garis pertahanan pertama, maka keberanian terbesar adalah mengubah kebiasaan, menertibkan pasar obat, dan menolak ilusi kesembuhan cepat di layar ponsel. (Orbit dari berbagai sumber, 12 September 2026)