Love Against Time: Reality Show Kencan Penyakit Terminal Korea Diprotes

Wolipop

Wolipop

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Love Against Time, reality show kencan Korea Selatan yang melibatkan peserta dengan penyakit terminal, memicu kontroversi bahkan sebelum tayang 3 Agustus 2026. Publik bertanya, apakah ini ruang empati bagi penyintas, atau komodifikasi penderitaan demi rating.

Program produksi SBS ini menampilkan pria dan wanita usia 20 hingga 30-an tahun dengan kondisi medis kronis yang mengancam nyawa. Premisnya sederhana, tetapi tajam: mencari pasangan saat waktu hidup terasa dipercepat.

Dalam teaser, peserta bercerita soal hambatan berpacaran karena calon pasangan ragu berkomitmen pada seseorang yang pernah atau sedang sakit berat. Di titik ini, acara mengangkat realitas sosial yang jarang dibicarakan secara jujur di ruang publik.

Namun promosi acara dinilai terlalu menonjolkan diagnosis dan keterbatasan umur sebagai daya pikat utama. Kekhawatiran muncul, pengalaman rapuh peserta diperas menjadi cliffhanger, bukan diperlakukan sebagai martabat manusia.

Konsep “bertukar waktu” tiap malam menjadi gimmick yang kuat, tetapi juga problematis. Tanpa penjelasan etis yang transparan, metafora waktu mudah berubah menjadi alat dramatisasi yang menyederhanakan kompleksitas penyakit.

Kontroversi ini hadir di tengah ledakan reality show kencan Korea Selatan yang terkenal murah biaya dan cepat viral. Banyak program memanfaatkan peserta non-selebriti, yang biasanya dibayar lebih rendah dibanding artis, sementara risiko sosial mereka jauh lebih panjang.

Secara global, format dating show memang terbukti menguntungkan platform dan stasiun TV. Laporan tahunan Netflix 2024, misalnya, menempatkan “unscripted/reality” sebagai salah satu pendorong keterlibatan penonton karena mudah ditonton berulang dan lintas budaya.

Masalahnya bukan pada asmara para peserta, melainkan pada relasi kuasa produksi. Ketika kontrak, edit, dan narasi dipegang sepenuhnya oleh tim kreatif, “kisah hidup” dapat dipotong menjadi karakter: si kuat, si rapuh, si tragis.

Di sinilah potensi bahaya muncul, yaitu “trauma porn” yang dibungkus romansa. Penonton diajak terharu, tetapi juga diajak menikmati ketegangan dari kemungkinan terburuk, seolah sakit adalah plot twist.

Padahal penyakit terminal bukan sekadar latar, melainkan realitas medis yang menyita energi, biaya, dan kesehatan mental. Jika produksi tidak menyediakan pendampingan psikologis, konsultasi medis yang memadai, serta kontrol peserta atas batas cerita, acara bisa berubah menjadi eksploitasi yang halus.

Di sisi lain, argumen pendukung juga tidak bisa diabaikan. Bagi sebagian orang dengan kondisi mengancam nyawa, kesempatan bertemu pasangan yang menerima mereka apa adanya memang langka dan penuh stigma.

Jika dikelola dengan etika ketat, acara semacam ini bisa menormalisasi percakapan tentang disabilitas, penyakit kronis, dan hak untuk dicintai. Ia bisa menjadi media edukasi publik tentang empati, bukan sekadar bahan tangis massal.

Kunci perdebatan Love Against Time bukan “boleh atau tidak” orang sakit tampil di TV. Kuncinya adalah apakah mereka tampil sebagai subjek yang berdaulat, atau objek yang dijual.

SBS seharusnya menjelaskan standar perlindungan peserta sejak awal, bukan menunggu badai kritik. Transparansi soal pendampingan psikologis, persetujuan yang benar-benar terinformasi, dan hak peserta mengoreksi narasi adalah ukuran minimal.

Promosi yang menonjolkan “waktu hidup” sebagai umpan emosi juga patut dikoreksi. Jika materi iklan lebih fokus pada diagnosis daripada kepribadian, maka pesan yang sampai ke publik adalah penyakit sebagai tontonan.

Dalam masyarakat yang makin kesepian, reality show kencan sering diposisikan sebagai pengganti ruang sosial yang hilang. Tetapi ketika kesepian dipertemukan dengan kerentanan medis, industri hiburan wajib menahan diri dari logika “semakin ekstrem semakin laku”.

Publik juga perlu jujur pada diri sendiri tentang posisi sebagai penonton. Kita bisa mengaku peduli, tetapi tetap menyumbang klik pada konten yang mengobjektifikasi, karena rasa ingin tahu lebih kuat daripada rasa hormat.

Love Against Time bisa menjadi jembatan empati, atau justru menjadi etalase penderitaan yang dipoles romansa. Perbedaannya ditentukan oleh satu hal: apakah martabat peserta lebih penting daripada dramaturgi.

Jika acara ini ingin layak dibela, ia harus membuktikan bahwa cinta bukan sekadar format, melainkan tanggung jawab. Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana dan menohok: ketika kamera mati, siapa yang tetap memegang tangan para peserta.

(Orbit dari berbagai sumber, 6 September 2026)