Self-Care Murah Saat Ekonomi Sulit: Tren DIY dan Diskon Salon
ORBITINDONESIA.COM – Self-care murah kini jadi kata kunci ketika ekonomi sulit memaksa orang menimbang ulang manicure, facial, sampai pijat. Di balik kuku akrilik dan diskon salon, ada cerita tentang bertahan, menawar, dan mencari cara agar kesehatan mental tetap terawat.
Tekanan biaya hidup membuat layanan beauty dan wellness terasa seperti kemewahan yang harus dipilih-pilih. Namun kebutuhan merawat diri tidak serta-merta hilang, melainkan bergeser ke bentuk yang lebih hemat.
Giselle Serrano, teknisi kuku, memindahkan bisnisnya ke rumah dan melihat pola “gelombang” permintaan yang tajam. Musim liburan ramai, lalu anjlok lagi ketika dompet pelanggan kembali menipis.
Survei Zenoti, platform beauty dan wellness berbasis AI, menunjukkan 45% responden lebih jarang memesan layanan profesional demi menghemat biaya. Sementara 32% memilih “turun kelas” ke versi yang lebih murah, bukan berhenti total.
Angka itu menegaskan satu hal: self-care tetap dianggap penting, tetapi cara membelinya berubah. Konsumen menahan frekuensi, mengurangi add-on, dan memburu paket yang paling masuk akal.
Di lapangan, perubahan itu terlihat dari strategi promosi yang makin agresif. Serrano menawarkan diskon dan giveaway gratis di media sosial untuk menjaga arus pelanggan.
Harga juga menjadi penentu yang keras dan konkret. Satu set kuku akrilik dengan desain di salon bisa US$65 hingga lebih dari US$100, tergantung gaya dan detail.
Ketika ditanya apakah orang lebih mencari jadwal atau freebies, Serrano menjawab lugas: “lebih sering freebies dan set diskon.” Pengakuan itu menggambarkan pasar yang sensitif terhadap harga, bahkan untuk layanan yang dulu dianggap “reward kecil”.
Pelanggan pun terbuka soal realitas finansialnya. “Saya tidak mampu sekarang, ada pengeluaran ini dan itu, jadi tidak bisa merawat diri,” kata Serrano menirukan curhat klien.
Joseline Jaradon menemukan Serrano dari unggahan media sosial saat masih kuliah dan kekurangan uang untuk manicure. Ia sempat mencoba DIY, tetapi waktu dan hasilnya tidak sebanding.
“Kalau dengan dia selesai 1,2 sampai 2 jam, tapi kalau saya sendiri mulai jam 5 sore dan baru beres jam 2 pagi,” ujar Jaradon. Di titik ini, DIY bukan sekadar hemat, melainkan pertaruhan tenaga, keterampilan, dan stres.
Jaradon menyebut dilema yang banyak orang rasakan: self-care untuk kesehatan mental versus kebutuhan primer. “Saya lebih pilih isi bensin daripada kuku,” katanya, menempatkan perawatan diri di bawah logika bertahan hidup.
Pakar menyarankan jalur tengah yang praktis. Manfaatkan video tutorial gratis untuk DIY, atau buat “dana hadiah bulanan” agar perawatan profesional tetap mungkin tanpa mengganggu pos penting.
Tren self-care murah saat ekonomi sulit sebenarnya cermin dari kecemasan kelas menengah yang makin rapuh. Ketika harga naik dan pendapatan terasa stagnan, orang tidak berhenti ingin merasa “rapi dan waras”, mereka hanya dipaksa menegosiasikan caranya.
Diskon dan giveaway memang membantu pelanggan, tetapi juga menekan pelaku usaha kecil yang marginnya terbatas. Jika perang harga jadi norma, kualitas, keamanan, dan keberlanjutan kerja di sektor beauty bisa ikut tergerus.
Di sisi lain, ledakan DIY membuka ruang kemandirian, tetapi menyimpan risiko baru. Tanpa literasi higienitas dan alat yang memadai, penghematan bisa berubah jadi biaya kesehatan yang lebih mahal.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan sekadar “bagaimana tetap self-care”, melainkan “self-care seperti apa yang adil dan aman bagi semua pihak.” Konsumen butuh akses yang terjangkau, dan pekerja jasa butuh penghasilan yang layak.
Self-care murah bukan tanda orang berhenti peduli pada diri sendiri, melainkan tanda mereka sedang menata ulang prioritas di tengah ekonomi sulit. Data Zenoti dan kisah Serrano-Jaradon menunjukkan perawatan diri kini berjalan di jalur hemat: lebih jarang, lebih sederhana, dan lebih taktis.
Barangkali refleksi terpentingnya adalah ini: merawat diri tidak selalu harus mahal, tetapi tetap harus manusiawi. Saat kita mengejar diskon dan DIY, sejauh mana kita juga memikirkan keselamatan, kualitas, dan keberlangsungan hidup para pekerja di balik layanan itu?
(Orbit dari berbagai sumber, 10 September 2026)