Doomscrolling Bencana: Cara Cerdas Batasi Konsumsi Berita
ORBITINDONESIA.COM – Doomscrolling saat bencana kini terasa seperti kebiasaan normal, padahal ia bisa menggerus fokus, tidur, dan ketenangan. Di tengah banjir informasi, publik mencari cara mengurangi kecemasan sekaligus tetap update berita tanpa terjebak siklus refresh yang melelahkan.
Doomscrolling adalah perilaku terus menggulir kabar buruk, terutama di media sosial, karena takut tertinggal perkembangan terbaru. Dalam artikel ini, peneliti yang dikutip, Noetel, menyebut problematic news consumption muncul ketika seseorang sulit berhenti mengakses berita meski sudah mengganggu hidup sehari-hari.
Masalahnya bukan pada mencari informasi bencana, melainkan pada pola konsumsi yang tidak lagi bertujuan. Ketika unggahan yang sama dibuka berulang tanpa informasi baru, yang tersisa hanyalah ketegangan dan ilusi kontrol.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menegaskan situasi darurat dapat memicu kecemasan, kesedihan, sulit tidur, kelelahan, dan mudah marah. Reaksi ini manusiawi, tetapi dapat menjadi tanda bahaya bila menetap dan mengganggu fungsi harian.
Doomscrolling bekerja seperti mesin umpan balik yang memadukan ketidakpastian, rasa takut, dan desain platform. Media sosial memperkuatnya karena algoritma cenderung mendorong konten yang memicu emosi kuat demi engagement, sehingga kabar buruk terasa tanpa ujung.
Noetel menyorot bahwa hubungan konsumsi berita dan distress lebih kuat pada media sosial dibanding media tradisional. Ini masuk akal karena timeline tidak hanya berisi fakta, tetapi juga komentar panik, klaim belum terverifikasi, dan video lama yang diunggah ulang.
Dalam situasi ramai, kebiasaan me-refresh aplikasi menjadi indikator penting problematic news consumption. Tindakan kecil itu terlihat sepele, tetapi ia memecah perhatian menjadi fragmen dan membuat pikiran terus siaga seolah bahaya selalu dekat.
Artikel ini menawarkan strategi praktis yang sebenarnya berbasis logika sederhana: ubah konsumsi berita dari impuls menjadi aktivitas terjadwal. Menentukan waktu khusus cek berita mencegah pikiran “dipenuhi berita sepanjang hari” dan mengembalikan kendali pada pengguna.
Pembatasan teknis juga disebutkan secara eksplisit melalui fitur Screen Time di iPhone dan Digital Wellbeing di Android. Ini penting karena kemauan saja sering kalah oleh desain aplikasi yang sengaja dibuat adiktif dan terus memancing klik.
Pemilihan sumber kredibel menjadi pagar kedua yang tidak kalah krusial. Dengan beberapa rujukan utama, publik mengurangi paparan misinformasi dan menghindari efek bola salju dari konten yang saling mengutip tanpa verifikasi.
Bagian paling manusiawi dari rekomendasi ini adalah “beri jeda setelah mendapatkan informasi.” Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, membaca buku, olahraga ringan, atau mengobrol dapat memutus rangkaian stres dan mengembalikan tubuh ke mode aman.
Terakhir, artikel menekankan ambang batas klinis yang sering diabaikan. Jika kecemasan mengganggu tidur, pekerjaan, relasi, atau aktivitas harian, bantuan profesional bukan tanda lemah, melainkan bentuk perawatan diri yang rasional.
Di balik doomscrolling, ada paradoks modern: kita merasa bertanggung jawab untuk tahu segalanya, padahal otak tidak dirancang untuk menerima tragedi global secara real time. Ketika berita bencana menjadi konsumsi tanpa henti, empati bisa berubah menjadi kelelahan emosional.
Ajakan “stay informed tanpa harus mengetahui setiap perkembangan” terdengar sederhana, tetapi ia menantang budaya FOMO yang dipelihara platform. Publik sering mengira berhenti scrolling berarti tidak peduli, padahal yang terjadi justru sebaliknya: memberi ruang agar kepedulian tetap sehat.
Strategi paling tajam dari artikel ini adalah pertanyaan reflektif: “Informasi apa yang sebenarnya sedang aku cari?” Pertanyaan itu memaksa kita membedakan kebutuhan keselamatan dari dorongan kompulsif yang hanya memberi rasa aman semu.
Dalam konteks bencana, informasi akurat memang bisa menyelamatkan nyawa, tetapi banjir konten bisa menenggelamkan kewarasan. Karena itu, disiplin informasi seharusnya dipandang sebagai literasi baru, setara pentingnya dengan kemampuan memilah hoaks.
Jika algoritma mendorong ketakutan karena ketakutan menjual, maka tanggung jawab warga digital adalah membatasi akses algoritma pada emosi kita. Mengunci waktu, memilih sumber, dan mengambil jeda adalah bentuk perlawanan kecil yang berdampak besar.
Doomscrolling bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan gejala zaman ketika berita dan kecemasan saling memelihara. Artikel ini mengingatkan bahwa kita bisa tetap update berita bencana dengan cara yang lebih waras: kenali pola, jadwalkan, pilih sumber, lalu berhenti ketika cukup.
WHO mengakui kecemasan saat darurat itu manusiawi, tetapi kita juga berhak untuk pulih dan tidur nyenyak. Jika rasa cemas menetap dan mengganggu hidup, bantuan profesional adalah pilihan yang masuk akal.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan apakah kita peduli, melainkan bagaimana kita merawat kepedulian agar tidak berubah menjadi luka. Berapa banyak informasi yang benar-benar kita butuhkan untuk bertindak, dan kapan kita perlu menutup layar untuk kembali menjadi manusia utuh. (Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)