Narasi Politik di Media Sosial: Algoritma Menguatkan Figur Populer

Suara Merdeka

Suara Merdeka

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Narasi politik di media sosial bekerja seperti serial tanpa jeda, dan algoritma memastikan tokoh yang sama terus muncul dalam episode berbeda. Kita merasa sedang mengikuti isu, padahal sering kali yang sedang dikuatkan adalah figur.

Manusia mudah terpikat pada cerita karena cerita memberi tokoh, konflik, dan emosi yang bisa diikuti. Raymond A. Mar (2018) mencatat keterlibatan dengan narasi berhubungan dengan proses kognitif sosial, meski dampaknya tidak selalu sederhana.

Di ruang digital, ketertarikan itu bertemu mesin pengukur perhatian yang sangat presisi. Klik, tonton, suka, bagikan, dan komentar menjadi sinyal untuk menentukan konten berikutnya.

Siklusnya tampak tenang tetapi kuat: perhatian menghasilkan data, data memilih konten, konten membentuk ulang perhatian. Akibatnya, aliran informasi bukan sekadar “apa yang penting”, melainkan “apa yang paling memancing respons”.

Riset Green, Andreeva, dan Raffloer (2026) menunjukkan narasi bisa memengaruhi sikap dan perilaku saat orang merasa “terhanyut” dan mengidentifikasi diri dengan tokoh. Dalam politik, kondisi itu membuat figur lebih mudah menempel di ingatan ketimbang rincian kebijakan.

Di platform, pengguna tidak selalu dijejali narasi yang sama. Mereka lebih sering dijejali tokoh yang sama dalam narasi berbeda.

Bencana, lingkungan, pendidikan, kemiskinan, hingga keseharian dapat berganti sebagai panggung. Namun pusat kamera tetap pada figur yang sama, dengan pesan berulang tentang “kepedulian” yang terus dipoles.

Pengulangan ini menciptakan dua efek sekaligus: visibilitas dan keakraban. Secara psikologis, yang sering terlihat cenderung terasa lebih dapat dipercaya, meski substansinya belum diuji.

Algoritma juga menyukai konten yang memicu emosi cepat, karena emosi membuat orang bertahan lebih lama. Di titik ini, isu publik berisiko diperlakukan sebagai latar dramatis, sementara tokoh menjadi pemeran utama permanen.

Publik akhirnya mendiskusikan siapa yang “peduli” lebih sering daripada apa yang benar-benar dikerjakan. Politik berubah menjadi kompetisi naratif, bukan kompetisi capaian yang bisa diverifikasi.

Masalahnya bukan pada narasi itu sendiri, karena narasi membantu kita memahami dunia yang rumit. Masalahnya muncul ketika narasi dipakai sebagai kendaraan rutin untuk mempertahankan sorotan pada figur, bukan untuk memperjelas akar persoalan.

Ketika satu tokoh hadir di banyak isu, publik bisa keliru mengira ia menguasai semuanya. Padahal yang terjadi sering kali hanya konsistensi tampil, bukan konsistensi menyelesaikan.

Di sinilah politik perhatian bekerja: yang paling terlihat dianggap paling relevan. Yang paling relevan lalu makin sering ditampilkan, dan lingkaran itu mengunci ruang bagi alternatif.

Ironinya, perhatian publik memang dibutuhkan agar kekuasaan diawasi dan masalah warga tidak tenggelam. Namun perhatian yang diarahkan algoritma dapat membuat pengawasan berubah menjadi fandom, dan kritik berubah menjadi perang identitas.

Jika isu selalu datang dalam format cerita tokoh, kebijakan mudah menjadi catatan kaki. Kita mengingat adegan, bukan anggaran; mengingat kutipan, bukan indikator; mengingat gestur, bukan dampak.

Media sosial tidak sekadar menyalurkan politik, tetapi menyusun ulang cara kita memahaminya lewat narasi dan pengulangan figur. Kita perlu melatih kebiasaan baru: bertanya pada data, mencari konteks, dan memisahkan empati naratif dari evaluasi kebijakan.

Pertanyaan akhirnya sederhana tetapi menentukan: ketika tokoh yang sama terus muncul di banyak cerita, apakah kita sedang menyaksikan kepemimpinan yang bekerja, atau hanya algoritma yang memastikan sorotan tak pernah padam? (Orbit dari berbagai sumber, 11 September 2026)