Tren Wellness Gen Z: Glow Up, Fitness, dan Self-Care Baru

lifestyle.kompas.com

lifestyle.kompas.com

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Tren wellness Gen Z kini menggeser definisi glow up dari sekadar makeup menjadi fitness dan self-care yang terukur. Data yang dibawa Guardian Indonesia menyebut 56 persen Gen Z memprioritaskan fitness dan self-care dalam keseharian, menandai perubahan arah industri beauty.

Selama bertahun-tahun, beauty identik dengan hasil yang terlihat: kulit cerah, makeup rapi, dan standar estetika yang mudah dipamerkan di media sosial. Namun tekanan akademik, jam tidur berantakan, dan risiko burnout membuat banyak anak muda mulai menghitung biaya “cantik” yang tak terlihat.

Dalam acara Guardian Wellness Journey Goes to Campus 2026 di BINUS Alam Sutera, Managing Director Guardian Indonesia Bhavin Patel menyebut pergeseran dari aesthetic beauty menuju mindful wellness. Pesannya jelas, kecantikan mulai dipahami sebagai kondisi tubuh yang sanggup menjalani hari, bukan hanya tampilan yang siap difoto.

Angka 56 persen Gen Z yang memprioritaskan fitness dan self-care menunjukkan wellness bukan lagi tren pinggiran, melainkan pusat keputusan konsumsi. Ini selaras dengan meluasnya kategori yang dibeli anak muda, dari skincare ke vitamin, suplemen, alat olahraga, hingga layanan cek kesehatan.

Olahraga kini dibaca sebagai ritual beauty karena dampaknya terasa pada energi, postur, dan mood. Ketika “kulit glowing” sering dipromosikan sebagai hasil serum, banyak Gen Z justru mulai menghubungkannya dengan hidrasi, metabolisme, dan kualitas tidur.

Tidur yang cukup, yang dulu dianggap urusan disiplin pribadi, berubah menjadi simbol self-respect di tengah kultur produktivitas. Dalam narasi baru ini, istirahat bukan kemalasan, melainkan strategi menjaga stamina agar tidak tumbang oleh ritme kuliah, kerja paruh waktu, dan tuntutan sosial.

Bhavin Patel menekankan konteks tekanan akademik dan burnout saat mengajak mahasiswa menjaga stamina lewat suplemen, vitamin berkualitas, dan istirahat. Kutipan “glow up sejatinya tak hanya dari polesan make-up, tetapi juga tercermin dari kebugaran tubuh” memperluas makna glow up menjadi lebih fungsional.

Namun perlu dicatat, perluasan makna ini juga membuka ruang komersialisasi baru. Ketika wellness menjadi identitas, produk kebugaran dan suplemen berpotensi dipasarkan dengan logika yang sama seperti skincare: fear of missing out, janji cepat, dan standar ideal baru.

Di sisi lain, tren ini dapat dibaca sebagai koreksi sosial yang sehat terhadap standar kecantikan yang sempit. Jika dulu “cantik” sering berarti seragam, kini beauty berpotensi lebih inklusif karena berangkat dari kebutuhan tubuh yang berbeda-beda, termasuk kesehatan mental dan pemulihan.

Tren wellness Gen Z patut diapresiasi karena menggeser fokus dari performa visual ke ketahanan hidup sehari-hari. Ini bukan hanya soal “lebih sehat”, tetapi soal merebut kembali kendali atas tubuh di tengah banjir tuntutan dan distraksi digital.

Meski begitu, kita perlu waspada ketika mindful wellness berubah menjadi kewajiban baru yang sama melelahkannya dengan standar beauty lama. Jika olahraga, tidur, dan suplemen diperlakukan sebagai kompetisi, wellness justru menjelma menjadi tekanan yang disamarkan.

Kritik paling penting ada pada pertanyaan: siapa yang bisa mengakses wellness yang “ideal” ini. Vitamin berkualitas, membership gym, dan makanan sehat sering berbiaya tinggi, sehingga glow up versi baru berisiko menjadi privilese, bukan kebiasaan yang merata.

Karena itu, literasi kesehatan perlu berjalan seiring dengan tren. Gen Z perlu dibekali kemampuan memilah klaim produk, memahami kebutuhan tubuhnya, dan membedakan antara perawatan berbasis bukti dan sekadar branding yang menarik.

Beauty yang beririsan dengan wellness memberi harapan: generasi muda mulai memaknai glow up sebagai energi, kebugaran, dan kemampuan bertahan, bukan semata tampilan. Pergeseran ini bisa menjadi jalan keluar dari budaya membandingkan diri yang melelahkan, jika dijalankan dengan sadar dan proporsional.

Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana namun menohok: apakah kita merawat tubuh untuk hidup lebih utuh, atau mengejar standar baru yang hanya berganti kemasan. Jika wellness benar-benar mindful, ia seharusnya membuat hidup terasa lebih manusiawi, bukan makin berat. (Orbit dari berbagai sumber, 17 September 2026)