Hentikan Doomscrolling Berita Bencana, Jaga Kesehatan Mental
ORBITINDONESIA.COM – Doomscrolling berita bencana membuat banyak orang merasa “tetap update”, tetapi diam-diam menggerus kesehatan mental. Di tengah banjir konten dan notifikasi, publik sering sulit membedakan kebutuhan informasi dengan FOMO. Kata kuncinya sederhana: tetap terinformasi tanpa tenggelam dalam arus real time. (Orbit dari berbagai sumber, 10 September 2026)
Doomscrolling adalah kebiasaan menggulir kabar buruk tanpa henti, terutama saat krisis atau bencana. Perilaku ini tampak rasional karena kita ingin aman, tetapi sering berubah menjadi konsumsi berlebihan yang melelahkan. Di titik tertentu, informasi tidak lagi menambah kendali, melainkan menambah cemas. (Orbit dari berbagai sumber, 10 September 2026)
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat situasi darurat dapat memicu kecemasan, kesedihan, sulit tidur, kelelahan, dan mudah marah. Reaksi ini wajar, tetapi dapat memburuk bila paparan informasi terus-menerus tidak dikelola. Media sosial mempercepat siklus itu karena berita, opini, dan rumor bercampur dalam satu linimasa. (Orbit dari berbagai sumber, 10 September 2026)
Masalahnya bukan pada keingintahuan, melainkan pada pola konsumsi yang tidak berbatas. Banyak orang membuka ponsel “sebentar”, lalu terseret dari satu unggahan ke unggahan lain. Akhirnya, hari habis untuk memantau, bukan memahami. (Orbit dari berbagai sumber, 10 September 2026)
Langkah pertama adalah mengenali kapan doomscrolling dimulai, yakni saat jari terus menggulir meski kepala sudah penuh. Tanda paling jelas adalah rasa gelisah yang tidak turun setelah membaca kabar terbaru. Jika “cek sebentar” berubah menjadi kebiasaan berjam-jam, itu sinyal yang perlu ditangani. (Orbit dari berbagai sumber, 10 September 2026)
Langkah kedua adalah membedakan kebutuhan informasi dengan FOMO, karena keduanya terasa mirip saat bencana. Informasi yang dibutuhkan biasanya spesifik, seperti lokasi aman, imbauan resmi, atau kondisi keluarga. FOMO biasanya kabur, seperti dorongan untuk tahu semua detail, meski tidak mengubah tindakan apa pun. (Orbit dari berbagai sumber, 10 September 2026)
Langkah ketiga adalah menentukan waktu khusus untuk cek berita, bukan memantau sepanjang hari. Pola terjadwal membuat otak punya ruang untuk kembali normal setelah menerima kabar buruk. Fitur Screen Time di iPhone dan Digital Wellbeing di Android dapat membantu membatasi aplikasi yang paling memicu kebiasaan ini. (Orbit dari berbagai sumber, 10 September 2026)
Langkah keempat adalah memilih sumber yang terpercaya, karena masa krisis adalah masa suburnya misinformasi. Linimasa bisa dipenuhi video lama, klaim belum terverifikasi, dan komentar yang memperbesar kepanikan. Memilih beberapa rujukan kredibel lebih efektif daripada mengikuti semua akun yang “paling cepat”. (Orbit dari berbagai sumber, 10 September 2026)
Di sini algoritma berperan besar, karena platform cenderung mendorong konten yang memicu emosi kuat. Sejumlah peneliti, termasuk Noetel, menyoroti hubungan konsumsi berita dan distress yang lebih kuat di media sosial dibanding media tradisional. Artinya, bukan hanya isi berita yang menekan, tetapi juga cara platform menyajikannya secara berulang. (Orbit dari berbagai sumber, 10 September 2026)
Langkah kelima adalah memberi jeda setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Menutup aplikasi lalu melakukan aktivitas lain adalah cara memutus rantai rangsangan yang terus memompa adrenalin. Berjalan kaki, membaca, atau mengobrol dengan orang dekat dapat mengembalikan rasa hadir di dunia nyata. (Orbit dari berbagai sumber, 10 September 2026)
Langkah keenam adalah tidak mengabaikan kecemasan yang mulai mengganggu, karena ini sudah menyentuh ranah kesehatan mental. Jika rasa cemas mengganggu tidur, pekerjaan, hubungan, atau aktivitas harian, bantuan profesional patut dipertimbangkan. Dalam banyak kasus, dukungan dini mencegah masalah berkembang menjadi lebih berat. (Orbit dari berbagai sumber, 10 September 2026)
Doomscrolling sering dibungkus sebagai kepedulian, padahal kadang ia hanya ilusi kendali. Kita merasa bertanggung jawab karena terus memantau, tetapi tubuh membaca itu sebagai ancaman yang tidak kunjung selesai. Akibatnya, empati berubah menjadi kelelahan dan sinisme. (Orbit dari berbagai sumber, 10 September 2026)
Di era algoritma, “tetap terinformasi” bukan lagi tindakan netral, karena platform punya insentif membuat kita bertahan lebih lama. Konten yang menakutkan dan memicu marah sering lebih diutamakan karena menaikkan engagement. Maka, disiplin digital bukan sekadar pilihan pribadi, tetapi bentuk perlawanan kecil terhadap desain yang adiktif. (Orbit dari berbagai sumber, 10 September 2026)
Yang perlu dikritisi adalah budaya real time yang menganggap jeda sebagai ketertinggalan. Padahal, pengetahuan tidak selalu lahir dari kecepatan, melainkan dari penyaringan dan konteks. Dalam bencana, keputusan terbaik justru sering datang dari informasi resmi yang ringkas, bukan dari linimasa yang riuh. (Orbit dari berbagai sumber, 10 September 2026)
Berhenti scrolling bukan berarti tidak peduli, melainkan memberi ruang agar pikiran tetap waras. Doomscrolling berita bencana bisa diputus dengan jadwal cek berita, sumber tepercaya, dan jeda yang sengaja dibuat. Pertanyaannya kini sederhana: apakah informasi yang kita kumpulkan benar-benar membantu tindakan, atau hanya menambah beban batin. (Orbit dari berbagai sumber, 10 September 2026)