Dancing With the Stars Season 35: Dua Tersingkir, Voting Sempat Kacau
ORBITINDONESIA.COM – Dancing With the Stars Season 35 baru dimulai, tetapi dua selebritas sudah tersingkir pada pekan pertama. Eliminasi cepat ini terjadi di tengah drama voting online yang sempat crash, membuat hasil malam pembuka hanya dihitung dari SMS. (Orbit dari berbagai sumber, 20 September 2026)
Dancing With the Stars kembali dengan Season 35 di ABC, membawa deretan nama dari reality show, aktor, atlet, hingga musisi. Format dua malam premiere langsung menguji popularitas sekaligus performa, karena penonton dan juri sama-sama menentukan nasib peserta. (Orbit dari berbagai sumber, 20 September 2026)
Panel juri tetap diisi Carrie Ann Inaba, Derek Hough, dan Bruno Tonioli, sementara Alfonso Ribeiro dan Julianne Hough kembali memandu. Target besarnya jelas, yakni mengikuti jejak juara Season 34, Robert Irwin, yang menjadi patokan standar “selebritas bisa menari” di musim sebelumnya. (Orbit dari berbagai sumber, 20 September 2026)
Namun, pembuka musim ini tidak hanya soal koreografi dan panggung. Sistem voting online yang crash saat siaran langsung memunculkan pertanyaan klasik, seberapa adil kompetisi ketika mekanisme suara penonton tersendat. (Orbit dari berbagai sumber, 20 September 2026)
Dua peserta yang langsung tereliminasi adalah Conner Leavitt dari Secret Lives of Mormon Wives dan influencer Sarah Jane Nader. Ini berarti, hanya dalam satu minggu, dua narasi personal terputus sebelum sempat membangun momentum emosional yang biasanya jadi “bahan bakar” voting. (Orbit dari berbagai sumber, 20 September 2026)
Leavitt bersama partner profesionalnya, Adele Zaikman, menari salsa dengan lagu Tag Team “Whoomp! (There It Is)”. Mereka memperoleh tiga nilai 4 dari juri, total 12 dari 30, angka yang secara statistik menempatkan mereka di zona bahaya sejak awal. (Orbit dari berbagai sumber, 20 September 2026)
Setelah tersingkir, Leavitt berkata, “This has been the most fun,” dan memuji Zaikman sebagai partner terbaik. Zaikman menegaskan pengalaman itu tetap “dream come true,” sebuah kalimat yang menandai bahwa kompetisi ini juga mesin reputasi bagi penari profesional. (Orbit dari berbagai sumber, 20 September 2026)
Nader bersama Hailey Bills tampil jive dengan “Sk8er Boi” milik Avril Lavigne dan meraih 14 dari 30. Mereka juga menjadi pasangan sesama jenis ketiga dalam sejarah 35 musim, sebuah fakta yang menambah dimensi representasi di panggung ballroom. (Orbit dari berbagai sumber, 20 September 2026)
Usai tampil, Nader menyebut kebersamaan dua perempuan di lantai ballroom “so powerful,” dan berharap pesan kebebasan mencintai serta menjadi diri sendiri tersampaikan. Dalam konteks televisi arus utama, pernyataan ini bukan sekadar kutipan, melainkan strategi narasi yang memperluas makna acara dari hiburan menjadi simbol sosial. (Orbit dari berbagai sumber, 20 September 2026)
Masalah terbesar pekan ini justru terjadi pada voting. Julianne Hough mengumumkan voting online sementara tidak tersedia, lalu Alfonso Ribeiro menyatakan voting online dibatalkan untuk malam itu, sehingga hanya SMS yang dihitung. (Orbit dari berbagai sumber, 20 September 2026)
Keputusan “hanya SMS” mengubah lanskap kompetisi, karena tidak semua penonton memiliki preferensi atau akses yang sama untuk voting via teks. Ketika mekanisme partisipasi menyempit, kontes popularitas bisa bergeser dari “siapa paling disukai” menjadi “siapa punya pemilih paling responsif.” (Orbit dari berbagai sumber, 20 September 2026)
Di papan atas, Harry Shum Jr. dan Jenna Johnson memimpin dengan 21 poin berkat cha cha ke “Let’s Groove” dari Earth, Wind & Fire. Maura Higgins dan Mark Ballas menyamai 21 poin lewat foxtrot ke “Black Velvet” dari Alannah Myles, menandakan persaingan ketat sejak start. (Orbit dari berbagai sumber, 20 September 2026)
Data skor ini memperlihatkan jarak yang tajam antara papan atas dan bawah pada pekan pertama, yakni 21 versus 12–14. Kesenjangan seperti ini sering membentuk persepsi publik, karena penonton cenderung menganggap peserta berskor rendah “layak” pulang lebih cepat. (Orbit dari berbagai sumber, 20 September 2026)
Dancing With the Stars selalu menjual dua hal sekaligus, kualitas tari dan cerita personal, lalu membiarkan voting mengikat keduanya. Ketika voting bermasalah, yang terganggu bukan hanya teknis, tetapi juga legitimasi emosi yang dibangun acara. (Orbit dari berbagai sumber, 20 September 2026)
Eliminasi Leavitt pada malam yang hanya menghitung SMS menyisakan ruang spekulasi, apakah hasilnya akan sama jika voting online berjalan normal. Di era hiburan interaktif, transparansi prosedur menjadi sama pentingnya dengan koreografi, karena penonton ingin merasa suaranya benar-benar dihitung. (Orbit dari berbagai sumber, 20 September 2026)
Sementara itu, kehadiran pasangan sesama jenis seperti Nader dan Bills menunjukkan acara ini terus menyesuaikan diri dengan tuntutan representasi. Namun, representasi saja tidak cukup, karena penonton tetap memilih berdasarkan kombinasi performa, simpati, dan akses voting yang adil. (Orbit dari berbagai sumber, 20 September 2026)
Season 35 baru berjalan satu minggu, tetapi sudah memunculkan pelajaran keras tentang rapuhnya kompetisi yang bergantung pada teknologi partisipasi publik. Panggung boleh gemerlap, namun satu crash sistem bisa menggeser rasa percaya penonton pada hasil. (Orbit dari berbagai sumber, 20 September 2026)
Acara ini akan kembali ke jadwal reguler pada Selasa, 22 September pukul 20.00 ET di ABC dan Disney+, dengan episode tersedia di Hulu keesokan harinya. Pertanyaannya, apakah minggu-minggu berikutnya akan menonjolkan tarian terbaik, atau kembali dipengaruhi oleh siapa yang paling siap menghadapi permainan voting. (Orbit dari berbagai sumber, 20 September 2026)