Self-Care dan Preventive Healthcare Nigeria: Kurangi Biaya, Kurangi Beban RS
ORBITINDONESIA.COM – Self-care dan preventive healthcare kembali didorong di Nigeria, dengan pesan tegas: kesehatan tidak boleh selalu menunggu ruang konsultasi. Di Lagos, para pemangku kepentingan menilai tanggung jawab personal dapat menekan kunjungan rumah sakit yang sebetulnya bisa dicegah.
Seruan itu mengemuka pada D’Bio Wellness and Self-Care Summit edisi ketiga bertema “The Self-Care Ecosystem: Connecting the Pillars of Health.” Forum ini mempertemukan apoteker, pelaku industri, praktisi kesehatan, dan komunitas untuk membahas pencegahan penyakit dan literasi kesehatan.
Di balik jargon “ekosistem,” ada persoalan yang konkret: biaya pengobatan naik, rumah tangga rentan jatuh miskin karena sakit, dan fasilitas kesehatan menanggung beban kasus yang berulang. Ketika penyakit kronis meningkat, sistem yang bertumpu pada kuratif cenderung terlambat dan mahal.
Olayinka Subair, Fellow Pharmaceutical Society of Nigeria, menyebut self-care sebagai ekosistem yang melibatkan individu, keluarga, komunitas, tenaga kesehatan, apotek, alat digital, hingga pembuat kebijakan. Ia menekankan bahwa cara termudah mengurangi kunjungan rumah sakit adalah “menaruh kekuatan di tangan orang,” yakni merawat diri sejak sebelum sakit.
Subair memetakan lima fondasi self-care: nutrisi sehat, aktivitas fisik, manajemen stres dan kesehatan mental, penggunaan obat serta suplemen secara bijak, dan menghindari perilaku berisiko seperti merokok serta seks tidak aman. Ia menggarisbawahi klaim yang provokatif namun relevan untuk kebijakan publik: “80 persen kesehatan dibangun” di luar ruang konsultasi, sementara sekitar 20 persen terjadi di klinik.
Angka 80/20 itu bukan statistik tunggal yang final, tetapi ia memotret realitas pencegahan: kebiasaan harian menentukan beban penyakit. WHO juga menempatkan penyakit tidak menular sebagai penyebab utama kematian global, yang banyak dipicu faktor gaya hidup dan lingkungan, bukan semata kurangnya obat. Ketika hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi menjadi ancaman, pencegahan adalah investasi yang paling murah.
Subair mengaitkan gagasan itu dengan pengalaman personal, setelah kematian ayahnya tak lama usai pensiun dan beban finansial yang menyertai sakit. Ia menyebut rutinitasnya: makan lebih sehat, mengelola mindset, dan berjalan rata-rata 7.000 langkah per hari. Pesannya sederhana, tetapi menohok: jangan menunggu sakit untuk mulai peduli.
Namun self-care tidak selalu identik dengan “mengobati sendiri,” dan di sinilah risiko muncul. Subair mengingatkan publik soal klaim kesehatan di media sosial, termasuk testimoni AI yang mencatut tokoh terkenal untuk menjual obat atau produk kesehatan. Ketika informasi palsu tampak meyakinkan, keputusan kesehatan bisa berubah menjadi perjudian.
Peran apoteker menjadi kunci karena mereka termasuk tenaga kesehatan paling mudah diakses di Nigeria. Subair mendorong apoteker membimbing penggunaan obat bebas dan suplemen secara rasional, mencegah penyalahgunaan antibiotik, serta membantu pemantauan tekanan darah dan gula darah. Ini menempatkan apotek sebagai “gerbang awal” layanan primer, bukan sekadar tempat transaksi.
Di sisi lain, Presiden PSN Ayuba Tanko mengingatkan ancaman obat palsu yang makin sulit dibedakan karena tiruannya kian canggih. Ia menegaskan PSN bukan regulator, tetapi bekerja dengan Pharmacy Council of Nigeria untuk menertibkan sektor. Jika obat palsu merajalela, self-care bisa berubah dari pencegahan menjadi bumerang yang mematikan.
Monica Eimunjeze selaku konvener menekankan self-care sebagai pilihan yang disengaja dan konsisten, terutama menghadapi gelombang penyakit tidak menular. Ia menyebut fokus pada nutrisi, olahraga, kesehatan mental, kepatuhan minum obat, dan menghindari perilaku berisiko. Ia merangkum etosnya dalam kalimat yang mudah diingat: “Taking care of yourself is not selfish.”
Para pembicara lain memperluas definisi sehat sebagai sesuatu yang lintas dimensi. Dr Aisha Oladejo menautkan kesehatan fisik dengan mental, emosional, spiritual, dan finansial, sementara Sir Nnamdi Obi menyoroti lemahnya edukasi publik yang membuat orang terlambat mengenali gejala. Ketua acara Igwe Alexander Onyido menegaskan self-care tidak bisa dipikul individu sendirian, karena keluarga, komunitas, dan lingkungan ikut menentukan.
Ajakan self-care terdengar seperti nasihat moral, tetapi sebenarnya ia adalah strategi sistem kesehatan. Ketika rumah sakit dipenuhi kasus yang bisa dicegah, yang terjadi bukan hanya antrean panjang, tetapi juga pemborosan sumber daya yang seharusnya dipakai untuk kasus akut dan gawat darurat.
Namun ada garis tipis antara pemberdayaan dan “pengalihan beban” dari negara ke warga. Self-care akan efektif bila pemerintah dan pasar membuat pilihan sehat menjadi terjangkau, mulai dari makanan bergizi, ruang aktivitas fisik, layanan skrining, hingga jaminan obat asli. Tanpa itu, self-care berisiko menjadi slogan yang menyalahkan korban: seolah sakit selalu akibat kurang disiplin.
Di titik ini, peran kebijakan publik menentukan apakah self-care menjadi gerakan atau sekadar kampanye. Penguatan program kesehatan mental di sekolah dan tempat kerja, seperti yang diminta Subair, relevan karena stres kronis dapat memicu atau memperburuk banyak penyakit. Jika kesehatan mental diabaikan, pesan “hidup sehat” terdengar seperti instruksi kosong bagi orang yang hidup dalam tekanan ekonomi.
Selain itu, literasi obat harus menjadi prioritas, terutama tentang antibiotik. Penyalahgunaan antibiotik mempercepat resistensi antimikroba, yang oleh WHO disebut sebagai salah satu ancaman kesehatan global terbesar. Self-care yang cerdas berarti tahu kapan cukup dengan istirahat dan hidrasi, dan kapan harus ke fasilitas kesehatan.
Poin paling tajam dari forum ini justru bukan soal langkah harian atau menu sehat, melainkan soal kepercayaan. Ketika obat palsu dan iklan menipu beredar, publik kehilangan kompas untuk memilih yang benar. Maka ekosistem self-care hanya akan hidup jika ekosistem informasi dan pengawasan juga sehat.
Self-care dan preventive healthcare di Nigeria kini diposisikan sebagai jawaban atas biaya yang naik dan rumah sakit yang kewalahan. Pesannya jelas: kebiasaan harian lebih menentukan masa depan kesehatan daripada kunjungan sporadis saat tubuh sudah menyerah.
Tetapi self-care yang berhasil bukan sekadar kemauan individu, melainkan hasil kerja bersama antara keluarga, apotek, sekolah, tempat kerja, industri, dan negara. Pertanyaannya tinggal satu: apakah kita sedang membangun ekosistem yang memudahkan orang hidup sehat, atau hanya meminta mereka bertahan sendiri di tengah risiko yang makin kompleks? (Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)